|

Dua Dosen FDKI Jadi Pemateri SIG

  • Kategori Berita : | Diposting Oleh: Website Builder
    Hari Sabtu | 04 Mei 2019 | 11:46:41 WIB | Dibaca: 84 Pembaca
Dua Dosen FDKI Jadi Pemateri SIG

Keterangan :

Sumbersuko-Dua Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) Institut Agama Islam (IAI) Syarifuddin menjadi pematiri Sekolah Islam dan Gender (SIG) di kantor Desa Labruk Kidul, Kecamatan Sumbersuko Kabupaten Lumajang, Senin (30/04/19). Kegiatan yang diselenggarakan Korp Putri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Lumaajang ingin memberikan pemahaman akan relasi Islam dan wacana Gender.
 
 
Menurut ketua Komisariat PMII STKIP PGRI Muhammad Faridhoturrohim, acara ini dikuti 18 peserta dari lima komisariat PMII se-Lumajang. Sekolah Islam dan Gender (SIG) ini digelar selama dua hari. 
 
 
" Semua komisariat PMII Lumajang mendelagisakn utusannya, untuk ikut dalam SIG tersebut," tuturnya.
 
 
Komisariat PMII STKIP telah melakukan SIG kedua kalinya. Pada SIG kali ini, PMII STKIP mengundang dua dosen dari FDKI IAI Syarifuddin, Bambang Subahri, M.Si dan Aminatus Zaharo, MA. Selain pertimbangan IAI Kampus Islam, banyak pakar keislam di kampus tersebut.
 
 
" Untuk narasumber Bambang Subahri telah dua kali mengisi kegiatan SIG di PMII STKIP ini. semoga para peserta SIG mendapatkan pencerahan atas wacana keislaman dan Gender tersebut. Karena relasi agama dan gender sering menjadi pembenar dominasi," tambahnya.
 
 
Bambang Subahri sangat mendukung acara organisasi mahasiswa yang bisa membangun dan menambah intelektual mahasiswa. Bahkan kalau perlu, kegiatan-kegiatan serupa ini harus banyak digelar. sehingga iklim intelektual kampus di Lumajang terbangun dengan baik.
 
 
"Kegiatan-kegiatan organisasi seperti ini akan meningkatkan kualitas mahasiswa. Karena mahasiswa tak hanya mendapatkan ilmu di bangku kuliah saja. Tapi mahasiswa mau berdialektika dengan kampus lainnya," ungakp Kepala Program studi (PRODI) Bimbingan Konseling Islam (BKI) FDKI IAI Syarfuddin.
 
 
Hal senada juga disampaikan Nyai Aminatus Zaharo, seharusnya mahasiswa tidak terbelenggu di dalam kampus saja. Mahasiswa harus memiliki kesadaran untuk berlomba-lomba menghisap manisnya madu keilmuan.  Serta membangun kepedulian antar sesama. Karena semua itu, merupakan tanggung jawab mahasiswa sebagai agen perubahan.
 
 
"Tidak ada hal yang sangat berarti di dunia ini selain memberikan manfaat hidup untuk orang lain serta memberikan kesadaran kepada orang lain untuk melawan segela belenggu ketidak adilan,"pungkasnya.

Berita Terkait